Minggu, 15 Januari 2012


ASAL MULA NAMA BEKASI

Nama Bekasi menurut ejaan filologi Prof. Dr.Poerbatjaraka berasal dari kata CHANDRA atau SASIH artinya bulan (sasih bahasa jawa) dan BHAGA artinya bahagian.
Dari CHANDRABHAGA melalui kata BHAGASASI menjadi BEKASI dan ibu kota Tarumanagara menurut pandapatnya harusnya dibekasi.
Hipothesa Prof. Dr. Poerbatjaraka banyak yang menyangkalnya karena hipothesa tersebut bukan atas dasar penelitian geomorphologi melainkan atas dasar filologi semata-mata.
Menurut pendapat Drs. Soehadi dari jawatan purbakala, kata Chandrabaga pada prasasti Tugu identik dengan Cakung alasannya ialah : kata Cakung terdiri dari kata Ca – kung, kota ca berasal dari cai berubah menjadi ci misalnya ci-liwung, citarum.
Kata kung (Jawa Kuno) berarti rindu dendam, mempunyai nafsu cinta.
Dengan demikian Cakung berarti sungai yang mengandung cinta birahi dan erat hubungannya dengan proses kesuburan. Raja Purnawarman membuat Chandrabhaga sebagai salah satu usaha/cara untuk melindungi rakyatnya supaya subur makmur.
Drs. Soehadi mengidentikan Chandrabhaga dengan sungai cakung karena melihat situasi pesawahan, kondisi dan landscape daerah Tugu serta faktor ekonomi ternyata sungai cakung mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan bekasi.
Pendapat lain nama Bekasi dari Rawa Tembaga, awal kata ten pada kata tembaga dihilangkan lalu dibelakangnya ditambah kata si sehingga menjadi bagasi selanjutnya disebut Bekasi. Tetapi pendapat ini belum mempunyai alasan yang dapat dipertanggung jawabkan karena rupanya hanya berdasarkan kirata (perkiraan) saja.


TERBENTUKNYA WILAYAH BEKASI

Dalam sejarah pembentukan bumi, satu sama lain tak dapat dipisahkan, begitu pula wilayah Bekasi dalam pembentukan bumi ini tak dapat dipisahkan engan Jawa Barat lainnya.
Pembentukan gunung-gunung berapi, bukit-bukit serta dataran tinggi berjalan terus pada masa akhir tertiair dengan quartiair.
Dataran-dataran rendah bagian utara Jawa Barat pada umumnya terjadi karena endapan-endapan alluvial dan lahar dari pengikisan lapisan vulkanis tertiair pegunungan berapi bagian selatan.
Menurut seorang geolog yang bernama R. W. van Bermolen menurut fisiknya daerah Jawa Barat dibagi atas :
-        Daerah Banten
-        Daerah Batavia (Jakarta)
-        Daerah Bogor
-        Daerah Bandung
-        Daerah pegunungan selatan dengan bagian-bagiannya yaitu Jampang, Pengalongan, dan Karangnunggal.
Daerah yang terbentang dari Serang, Rangkasbitung, Jakarta hingga Cirebon, merupakan dataran rendah yang terjadi karena endapan-endapan sungai alluvial dan lahar atau lumpur dari pengikisan lapisan tertiairpegunungan berapi dari pedalaman. Dengan demikian, daerah Bekasi termasuk pembentukan daerah Jakarta yang terjadi pada masa quartair.
Derah Bekasi termasuk pembentukan daerah (bumi) yang masih muda bila dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat.

ZAMAN PRA SEJARAH

 zaman prasejarah dibagi atas dua bagian, yaitu:
1. zaman batu
2. zaman logam

zaman batu dibagi atas tiga bagian, yaitu:

a. Zaman batu tua (Paliolithicum), ciri-cirinya ialah:

-        alat yang dibuat dari batu dikerjakan secara kasar.
-        orang-orangnya masih nomaden (selalu berpindah-pindah tempat)


b. Zaman batu tengah (Mesolithicum), ciri-cirinya ialah:

-        alat yang dibuat batu masih kasar juga.
-        mata pencahariannya berburu dan sebagian sudah bercocok tanam.
-        mereka suah mengenal seni, hal ini terlihat dari lukisan alat-alat walaupun keadaaannya masih kasar dan sederhana tetapi sudah mengandung seni.

c. Zaman batu muda (Neolithicum), ciri-cirinya ialah:

-        alat-alatnya sudah diasah halus dan lukisannya sudah indah.
-        selain tembikar, juga mereka sudah mengenal tenunan.
-        tempat tinggal mereka menetap.

2.1. Penemuan Benda-Benda Bersejarah Di Kabupaten Bekasi.

1.    Di daerah Cariau(Cibarusah)telah ditemukan alat untuk memukul kulit kayu. Kulit kayu setelah dipukul-pukul seratnya ditenun lalu dijadikan pakaian.
2.    Di Buni wates, ditemukan periuk yang telah berhias
3.    Di Buni Babelan ditemukan alat-alat berupa :
-        kerang
-        periuk
-        tengkorak dan tulang-tulang manusia
-        gelang
-        manik-manik dalam berbagai bentuk dana warna
-        cincin alam berbagai ukuran
-        kapak persegi dari batu

          Dengan ditemukannya periuk berisi tulang-tulang manusia, hal ini ada hubungannya dengan soal penguburan yang kedua kalinya dengan disertai upacara adat.
          Gelang yang ditemukan bila dilihat dari pembuatannya ada beberapa cara:
a.     Batu itu dipukul-pukul sehingga diperoleh bentuk bulat bulat persegi, kemudian kedua sisi yang rata itu dicekungkan, dengan dipukul-pukul pula,sampai akhirnya kedua cekung itu bertemu lalu membentuksebuah lubang, sehingga jadilah gelang yang dikehendaki.
b.    Batu yang bulat gepeng digurdi dari kedua belah sisi yang rata dengan menggunakan alat bambu,pasir dan air yang kemudian diputar. Akibat dari pergosokan itu menyebabkan batu tersebut berlubang sehingga membentuk gelang.
Di pulau Celatik telah ditemukan periuk yang berukir.
Dari keempat tempat penemuan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan yang tertua di wilayah Bekasi berasal pada masa Batu Muda(neolithicum).
Setelah zaman neolithicum maka datanglah zaman logam, dimana pada masa ini orang-orang telah pandai mengolah bahan dari logam untuk dijadikan berbagai jenis barang kebutuhan manusia, jadi kebudayaan masa ini jauh berlangsung sampai sekarang.
Sebagai salah satu contoh terdapat di daerah Kecamatan Setu, dimana terdapat ubaban yaitu alat yang dipakai untuk membuat benda-benda logam guna dijadikan perhiasan-perhiasan yang dikehendaki.
Menurut keterangan penduduk setempat, cara membuat perhiasan tersebut sudah turun-temurun. Tidak mustahil bila kebudayaan tersebut adalah kelanjutan masa logam yang terus berkembang sampai kini tetapi coraknya pada masa kini dimodernisir menurut selera pemakainya.
Keterangan selanjutnya menyatakan bahwa pada umumnya pembuat barang-barang perhiasan tersebut adalah penduduk asli Bekasi, jelaslah bahwa kebudayaan tersebut sudah lama berkembang di tempat itu dan sebagai warisan dari kebudayaan nenek moyangnya.
Karena umur dari ubaban yang ditemukan itu sudah cukup tua ,maka orang-orang banyak yang mengkultuskannya, sehingga pengusaha kemasan harus mengadakan sesajen dahulu supaya diberkahi leluhurnya.Demikianlah  kebudayaan tersebut masih berpengaruh besar di kalangan masyarakat.

2.2. Pengaruh Animisme/Dinamisme Di Bekasi.

Pada masyarakat yang kehidupannya dari bercocok tanam, kepercayaan mereka senantiasa mendekatkan kepada roh-roh nenek moyang supaya memberikan doa restu kepada pertaniannya.
Selain itu mereka jug masih percaya kepada kekuatan ghaib atau benda-benda serta pohon-pohon yang dianggap keramat. Karena daerah Bekasi pada umumnya  daerah pertanian, maka masyarakat setempat  setiap akan bercocok tanam dan sesudah panen, baik kecil maupun besar, mereka mengadakan upacara tradisional yang dipersembahkan kepada roh nenek moyangnya atau Dewi Sri.
Sekalipun mereka telah memeluk agama Islam, tetapi tradisi lama ini sukar dihilangkan.
Hal inidapat kita mengerti karena jauh sebelum kita didatangi penyebar agama Islam, nenek moyang mereka telah menganut tradisi tersebut. Jadi wajarlah apabila adat istiadat tersebut masih ada. Hal ini rupanya sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia paa umumnya.

ZAMAN HINDU
BEKASI SEBAGAI WILAYAH TARUMANEGARA

 Pada pertengahan abad ke V di Jawa Barat terdapat sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Tarumanegara. Salah satu bukti bahwa Bekasi masuk wilayah Tarumenagara ialah:

a.    Prasasti Tugu.
Prasati ini terdapat di Cilincing dan ditulis dalam bahasa Sanksekerta.Isinya berbunyi sebagai berikut:
TRANSKRIPSI PRASASTI TUGU.
(Berdasar batu D.124).
1.    Pura rajadhirajena guruna pinabanuna khata khyatam prabaya candrabhagarnawam yayan.
2.    Pravardharmana dvavincad vatarsara crigunaujasa narendra dvajabhutena crimata purnavarmana.
3.    Prarabaya phalguna masa khata kresnastami tithen centra cuklatryedyasyas dinais adha ika vincaksi(h)) ayata satsahasrena dhanusamsacatena ca dva ca dva vincena nadiranya Comati nirmalodhaka.
4.    Pitamahasya rajarse vvidarya cibiravanim brahmanir ggesaharsena (h) prayati krtadaksinan.

Terjemahannya : (oleh Drs .MSuhadi)
1.    Dahulu oleh maharaja yang terhormat yang kuat lengannya ,sesudah chandrabhga sampai istana yang termahsyur , telah digali untuk dialirkan ke laut.
2.    Pekerjaan itu (pada) tahun ke 22 dari Purnawarman yang berkilauan karena kebijaksanaannya ( dan )menjadi panji-panji dari raja-raja.
3.    Penggalian itu dimulai pada para patang bulanPhalguna tangggal 8 selesai pada pare terang bulan cetra tanggal 13,(jadi) hanya 21 hari;panjangya 6122 busur dhanu,sungai indah Comati jernih airnya.
4.    Setelah alirannya mencapai tempat kediaman raja-pendeta kakeknya oleh para brahmana dihadiahkan 1000 lembu.
b.    Adanya batu bertulis di kecamatan Batujaya. Tulisannya kurang jelas, tetapi tanda-tanda telah menunjukkan bahwa batu tersebut berasal dri pengaruh Hindu paa masa kerajaan Tarumanegara.Batujaya menurut cerita rakyat,paa masa yang lalu mempunyai pengaruh yang besar terhadap penduduk sekitarnya ,karena daerah itu selalu jaya oleh hasilproduksi pasi yang belimpah-limpah,sehingga daerah itu tidak kekurangan padi tetapi masa sekarang kepercayaan tersebut berkurang karena produksi padi tetap,sedangkan jiwa bertambah banyak,sehingg daerah ini sama engan daerah lainnya .Bila dilihat secara geografis maka kerajaan TArumanegara meliputi Jakarta,Bogor dan Banten.
          Dengan demikian jelaslah bahwa Bekasi termasuk wilayah Tarumanegara yang sampai kini sisa-sisanya masih tersebar di wilayah Bekasi

BEKASI PADA MASA KERAJAAN PAJAJARAN

Sebelum Pajajaran berdiri dan setelah kerajaaan Tarumanegara runtuh,di Priangan Timur berdiri sebuah kerajaan yang disebut Gluh,yang menurut babad atau cerita pantun ibukotanya di Ciamis. Diterangkan oleh Plyete bahwa pusat kerajaan Galuh terapat di Bojong galuh.
Menurut penyelidikan,Kerajaan Tarumanegara runtuh oleh serangan kerajaan Sriwijaya,kira-kira pada abad ke 7-8 kemudian berdirilah kerajaan Galuh. Mengenai perkembangan Galuh dalam sejarah belum terungkap secara keseluruhan, hanya diterangkan bahwa di Priangan sebelah barat muncul suatu kerajaan baru yang disebut Pajajaran.
Didalam prasasti Kebantenan yang terdapat di daerah Bekasi,disebutkan bahwa Rahyang Ningrat Kancana adalah ayahanda Susuhunan yang memerintah di Pakuan Pajajaran. Berdasarkan keterangan dan beberapa prasasti diterangkan bahwa pusat kerajaan Pajajaran ialah di Bogor.
Menurut pendapat Holle, Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar,sebagai dasar teorinya ialah dengan mengalirnya sungai Cipaku di daerah bekas ibu kota kerajaan tersebut.
Menurut pendapat Prof .DR. Purbatjraka kata Pakuan berasal dari bahasa Jawa Kuno “Kuwu” (pakuan) yang berarti tempat tinggal oleh karena itu ia menganggap nama Pakuan ialah istana yang berjajar.
Jawa Barat pada masa kerajaan Pajajaran mengalami masa keemasan saat diperintah oleh Prabu Siliwangi. Sampai saat ini nama Prabu Siliwangi menjadi tutur kata masyarakat Jawa Barat baik lisan maupun tulisan.
Kota Bogor letaknya diapit oleh Ciliwung dan Cisadane,di dalam prasasti Batutulis di Bogor disebutkan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Baduga Maharaja.
Di atas telah diterangkan bahwa sebelum kerajaan Pajajaran berdiri telah ada kerajaan Galuh yang letaknya di Priangan Timur, dengan demikian Pajajaran seolah-olah sebagai lanjutan dari kerajaan Galuh, kemungkinan kepindahan tersebut didorong oleh factor-faktor strategis-politis, karena diterangkan oleh Drs. Amir Sutaarga dalam buku Prabu Siliwangi, adalah sebagai berikut:

“…Pendirian Pakuan sebagai ibukota Pajajaran yang baru,berarti suatupemindahan pisat kerajaan yang dengan sendirinya mempinayai alas an-alasan geopolitis an militer taktis karena dari Pakuan jalan-ajalan yang ada lebih-lebih melalui aliran sungai Ciliwung dan Cisadane,maka kota –kota pelabuhan seperti Bekasi, Karawang Kalapa, Tangerang dan Mahanten (Banten Surasuan)dapat dikontrol secara efektif.”

Dari kesimpulan di atas dapat dikatakan bahwa selain kepindahan ibukota Pajajaran yang baru mempunyai alasan strategis-politis, juga Bekasi disebutkan sebagai kota pelabuhan Pajajaran. Bila melihat hasil penemuan kepingan kapal-kapal di daerah Rawa Tembaga dan rantai yang terdapat di Kobak Rante jelaslah Bekasi merupakan pelabuhan yang cukup dan mempunyai peranan penting,karena salah satu komunikasi yang sangat urgent pada masa itu adalah pelabuhan.
“…dari Pakuan Pajajaran ada sebuah jalan yang dapat melalui Ciluengsi atau Cibarusah, Warumggede,  Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Sagalaheran terus ke Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Kawali dan… ke pusat kerajaan Galuh di sekitar Ciamis dan Bojonggaluh.”
Jalur-jalur jalan tersebut di atas merupakan highway Pajajaran yang hingga kini jalan-jalan tersebut masih dapat digunakan, malahan merupakan jalan-jalan yang cukup baik.
Dengan demikian, daerah Bekasi baik jalan darat maupun jalan pelabuhan merupakan daerah lalulintas menuju ibukota.  
Pada masa sekarang juga, Bekasi merupakan kota lalu-lintas menuju ke ibu kota Republik Indonesia. Oleh karena itu hukum siklus dalam sejarah Bekasi terulang kembali. Bila dilihat peranan lalu-lintas Bekasi sejak masa Pajajaran sampai kini merupakan daerah yang penting menuju ibu kota.

PENGARUH AGAMA ISLAM DI BEKASI

Di dalam cerita Parahyangan diterangkan, bahwa sejak pemerintahan Prabu Ratu Dewata, maka Pajajaran  timbul huru-hara, banyak musuh yang tiak diketahui asalnya, sehingga masa ini disebut masa kerusuhan, karena akibat datangnya serangan Islam dibawah kepemimpinan Faletehan.
Kedudukan Banten sangat penting bagi perdagangan, maka pelabuhan itu diperkuatnya. Seluruh pantai utara sampai Cirebon di-Islamkan, dengan demikian Sunda kelapa sebagai kota pelabuhan Pajajaran telah dapat direbut pada tahun 1572 dan namanya diganti menjadi Jayakarta. Tindakan ini disebabkan karena kota tersebut akan didirikan benteng Portugis yang sudah tentu akan membayakan Kerajaan Islam.
Pada masa itu Banten diperintah oleh Faletehan, sedangkan cirebon di serahkan kepada puteranya yang bernama Pangeran Paserean.
Pada tahun 1552 Pangeran Paserehan wafat, Faletehan pergi ke Cirebon untuk mengendalikan pemerintahan dan Banten diserahkan kepada puteranya lagi yang bernama Hasanuddin.
Kedudukan Banten makin kuat sedang keadaan Demak kacau balau, maka pada tahun 1568 Banten memutuskan hubungan dengan Demak dan Hasanuddin menjadi Sultan yang pertama di Banten.
Pada tahun 1570 Hasanuddin wafat, lalu diganti puteranya yang bernama Panembahan Yusup.
Pada tahun 1579 ia giat memperluas daerahnya dengan melenyapkan kerajaan Pajajaran yang masih belum masuk Islam, sehingga jatuhlah Kerajaan Pajajaran selaku benteng Hindu Budha yang terakhir di Jawa Barat.
Di dalam penyebaran Agama Islam ini Prof. Dr. Asikin Wijayakusumah dalam bukunya yang berjudul sejarah Sumedang menerangkan bahwa :
“… Pada tahun 1526 Banten telah di Islamkan, kemudian Sunda Kelapa pada tahun 1527, begitu pula Cirebon, Galuh, dan Sumedang di masuki Agama Islam sekitar tahun 1530”.
Dengan demikian, diperkirakan antara tahun 1527 sampai tahun 1530 daerah Bekasi dan sekitarnya telah dipengaruhi Agama Islam.
Mesjid yang tertua di Kabupaten Bekasi terdapat di Rawa Blacan desa Pantai Sederhana, kecamatan Muara Gembong, sekarang tinggal tiang-tiangnya saja.
Pembawa Agama Islam yang pertama di kampung Jati-kramat desa Jatibening kecamatan Pondok Gede ialah Kyai H. Kandong keturunan dari Pangeran Sageri Jatinegara, yang makamnya terdapat di  kampung Jatikeramat.
Di kampung Ceger, desa Jakasampurna, Kecamatan Bekasi selatan, pemuka Agam Islam ialah R. H. Shoheh, masih keturunan Pangeran Sageri pula, sedangkan Pangeran Sageri sendiri adalah pemuka Agama Islam di daerah Jatinegara.
Selain itu dari pemuka-pemuka tersebut diatas, banyak pula pemuka-pemuka lainnya yang tersebar di seluruh penjuru Kabupaten Bekasi.
Agama Islam di Kabupaten Bakasi sampai kini cukup kuat, tetapi walaupun demikian pengaruh tradisi nenek moyang tetap masih melekat. Pengaruh animisme dan dinamisme dapat dilihat dari kehidupan masyarakat misalnya pada waktu mengadakan kenduri atau mengadakan sesajer kepada tempat-tempat yang masih dianggap keramat.
Bila dilihat dari segi historis memang sewajarnyalah kalau Agama Islam di daerah bekasi cukup militan, karena pemuka agamanya adalah keturunan Pangeran Segari.
Adapun Pangeran Segari adalah keturunan Sultan Abdul Fatah dari Banten, yang keturunannya banyak menyebar disekitar Jatinegara (Klender).
Andaikata keturunan Pangeran Segari banyak menjadi pemuka Agama Islam I Bekasi, tidak berarti luar dari keturunan tersebut tidak ikut mengembangkan Agama Islam di Bekasi. Hal ini dapat dinyatakanbeberapa tempat yang pemuka-pemukanya berasal dar daerah Priangan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan luar Pulau Jawa.

BEKASI SEBAGAI DAERAH SUMEANGLARANG

Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh sebagai akibat meluasnya pengaruh Agama Islam, maka daerah Pajajaran walaupun sudah dibawah pengaruh Agama Islam namun dalam segi pemerintahan kurang terbina betul-betul sehingga tidak mustahil bila daerah ini bernama ke-vacum-an.
Dalam keadaan seperti ini, timbullah sebuah negara baru yang disebut Kerajaan Sumedanglarang yang diperintah oleh Geusan Ulun (geusan kawulaan eun: bahasa Sunda)
Adapun daerah Sumedanglarang meliputi :
-        Sebelah barat berbatasan dengan Cipamugas (Cisadane), dan
-        Sebelah timur berbatasan dengan Cipamali.
Jadi daerah Sumedanglarang ialah: Sumedang, Sukakerta, Limbangan, Bandung, Cianjur, Cianjur dan Karawang.
Pengertian Karawang disini bukanlah merupakan daerah kabupaten Karawang sekarang, melainkan wilayahnya meliputi Kabupaten Bekasi sekarang.
Ibu kota Sumedanglarang mula-mula di Kutamaya kemudian dipindahkan ke Dayeuhluhur. Adapun kepindahan tersebut disebabkan Geusan Ulun selaku Raja Sumedanglarang terdesak oleh serangan tentara Pangeran Girilaya dari Cirebon.
Dan penyerangan ini disebabkan Pangeran Geusan Ulun melarikan istri Pangeran Girilaya yang bernama Hariabaya (turunan madura).
Sejak itulah ibu kota Sumedanglarang pindah ke Dayeuluhur.
Geusan Ulun memerintah di Sumedanglarang selama 28 tahun yaitu antara tahun 1580 sampai tahun 1608.
Pemerintahan Sumedanglarang setelah Geusan Ulun meninggal dunia dilanjutkan oleh Aria Saruidiwangsa, yaitu putera tiri Geusan Ulun dari istrinya yang bernama Hariabaya.
Pada masa ia memerintah, mataram mulai meluaskan kekuasaannya sampai Jawa Barat.
Waktu Mataram diperintah oleh Seda Krapyak, Keerajaan Cirebon dianggap sederajat dengan Mataram tetapi setelah Seda Krapyak meninggal dunia dan diganti oleh Sultan Agung, maka Cirebon dikalahkan sehingga menjadi daerah kekuasaan Mataram.
Pangeran Aria Suriadiwangsa dari Sumedanglarang milihat kekuasaaan Mataram makin lama makin kuat dan terus meluas, juga melihat pribadi Sultan Agung begitu berwibawa, maka pada tahun 1620 ia pergi ke Mataram, bermaksud tiada lain untuk menyerahkan Sumedanglarang di bawah naungan Mataram. Dengan demikian sejak itu Sumedanglarang terkenal dengan nama “PRIYANGAN”, artinya berserah diri dengan hati yang suci.
Kemudian Raden Aria Suriadiwangsa diberi julukan Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata oleh Sultan Agung dan diangkat menjadi Bupati Wedana (Gubernur sekarang) untuk Tanah Sunda, yang dimaksud adalah Sumedanglarang.
Oleh karena Sumedanglarang dibawah naungan kekuasan Mataram, maka secara praktis Karawang (termasuk Bekasi sekarang) merupakan kekuasaan Mataram.
Waktu Rangga Gempol I menjadi Bupati Wedana di Tanah Sunda, pada tahun 1624 Mataram memohon bantuan kepadanya untuk menaklukan Sampang (Madura), karena menurut pendapat Sultan Agung ia masih keturunan Madura dari ibunya yang bernama Hariabaya.
Waktu Rannga Gempol pergi ke Sampang, pemerintahan di wakilkan pada Rangga Gede, yaitu putera Geusan Ulun dari Nyimas Gedeng Waru.
Dengan menggunakan taktik persaudaraan akhirnya Rangga Gempol I dapat menaklukkan Sampang dibawah kekuasaan Mataram.
Setelah tugas dari Mataram selesai, maka Rangga Gempol kembali ke Sumedang, tetapi karena adanya aduan dari Adipati Wangsanata kepada Sultan Agung, maka Rangga Gemol dipanggil ke Mataram, kemudian dibunuh.
Adapun latar belakang hasutan dari Adipati Wangsanata ini ialah karena iri terhadap Rangga Gempol.
Setelah Rangga Gempol I meninggal dunia, maka pemerintahan digantikan Rangga Gede.

Bekasi Selaku aerah Sumedanglarang Atau Mataram Terbukti dari Petilasan-petilasan Yang Berupa :

1.    Makam Pangeran Rangga yang terdapat di Kranggan Wetan desa Jatisampurna Kecamatan Pondok Gede. Menurut keterangan dari rakyat setempat, bahwa ia sebagai tokoh ditempat itu. Ia berasal dari Sumedang dan kedatangannya ke daerah ini adalah untuk mempertahankan daerah Bekasi dari seranganan musuh, yang saat itu ialah Belanda. Selain makam Pangeran Rangga juga ditemukan kuburan kudanya, yang sampai saat kini bagi mereka yang mempercayainya suka diziarahi. Memang kuda adalah salat satu kendaraan yang dipakai saat itu.
2.    Ditemukannya makam Wangsawijaya dan ratu Mayangsari. Menurut keturunannya yang ketujuh Bapak Hasan yang berada di kampung Bojongsari, desa Jatiluhur kecamatan Pondok Gede bahwa leluhurnya berasal ari Cirebon, tugasnya berperang. Bila dilihat dari batu hidup yang terdapat dari kedua makam tersebut memamng jelas menunjukan bahwa usia dari makam tersebut pararel dengan masa pemerintahan Sumedanglarang.
3.    Ditemukannya makam Wijayakusuma serta sumur tempat mandinya, yang terdapat di kampung Ciketing desa Mustika Jaya Kecamatan Bantar Gebang. Menurut penduduk setempat bahwa Wijayakusuma adalah orang yang terkemuka masa lalu, sehingga sampai kini baik makam maupun sumurnya masih suka diziarahi oleh mereka yang mempercayainya. Bila dilihat dari kondisi serta batu-batu yang ada disekitarnya, memang telah menunjukan bahwa sumurnya semasa dengan pemerintahan Sumedanglarang.
4.    Diketemukannya rantai kapal di Kobakrante Desa Suka Makmur, Kecamatan Sukatani. Menurut keterangan H. Aliyudin (Alm.) bahwa daerah Kobakrante asalnya sungai (pinggiran laut) karena dangkal sehingga kapal itu terdampar, yang sisanya hanya rantainya saja. Adapun kapal yang terdampar itu adalah kapal Terongpeot dari Sumedang yang sedang mengadakan patroli ke daerah pantai. Dengan demikian Bekasi selaku daerah Sumedanglarang selalu diawasi karena daeranya berbatasan dengan Belanda.
5.    Diketemukannya makam Soemantri (Santri) yang terletak dikampung Gedung Cinde, Pantai Bakti Kecamatan Cabangbungin. Menurut keterangan ia berasal dari Sumedang dan maksudnya datang kedaerah Bekasi berperang melawan V.O.C dan membuka perkampungan yang pertama ditempat tersebut.
Dengan demikian bukti-bukti tersebut di atas jelaslah bahwa ekspedisi Sumedanglarang (Mataram) datang ke Bekasi untuk melindungi daerahnya.

BEKASI DIANTARA KEKUASAAN MATARAM,
BANTEN DAN V.O.C.

Letak Bekasi yang diapit oleh ketiga kekuasaan ialah Mataram, Banten dan V.O.C. serta bila dilihat dari geografisnya memang mempunyai tempat yang sangat setrategis, karena apabila daerah ini dikuasai maka dengan sendirinya akan terbuka dengan daerah lainnya.
Diantara ketiga kekuasaan tersebut diatas yang menjadi titik saingan satu dengan yang lainnya adalah terletak  pada faktor sosial, ekonomi, dan politik. Akibatnya satu dengan yang lainnya selalu waspada dan mengatur siasat bagaimana caranya agar dapat mengalahkan musuh.
Daerah Bekasi bagian selatan berbatasan dengan daerah Banten sedang bagian barat berbatasan dengan V.O.C. dengan demikian setiap jengkal tanah Bekasi harus dipertahankan Mataram.
Setelah Jayakarta direbut oleh V.O.C.  dan diberi nama Batavia sejak 30 mei 1619, maka Mataram cepat-cepat ingin merebut Batavia karena masa itu bandar Jakarta (sekitar teluk Jakarta yaitu pasar ikan) kurang penting, pedagang-pedagang bansa Indonesia lebih senang berdagang di bandar-bandar Banten, atau Mataram dari pada ke V.O.C.
Tetapi setelah V.O.C menguasai perdagangan rempah-rempah maka Batavia mempunyai peranan penting.
Sultan Agung tidak senang melihat V.O.C. berkuasa terus di Batavia, maka pada tahun 1628 berangkatlah tentara Mataram ke Batavia dengan pimpinan Baurekso. Tentara Mataram waktu itu dibantu oleh pasukan Sunda yang dikepalai oleh Dipati Ukur. Tentara Mataram yang kedua dikepalia oleh Tumenggung Suro Agul-agul. Kini Adipati Mandurareja dan Dipati Uposento.
Perahu-perahu Mataram yang memuat beras, ternak serta peralatan lainnya berlabuh di pelabuhan Batavia.
Tentara Mataram menyerang dengan gigih, tetapi tentara pimpinan Baurekso kalah bahkan Baurekso sendiri tewas. Kemudian disusul lagi dengan tentara yang kedua karena gudang makanan dibakar oleh V.O.C. sehingga tentara Mataram kekurangan beras, maka penyerangan Matram gagal.
Bekasi selaku daerah Mataram dalam rangka penyerangan itu, maka daerah sekitar Tambun, Pekopen (tempat ngopi tentara mataram) daerah desa Mustika Jaya serta daerah pantai utara adalah tempat-tempat persiapan tentara Mataram.
Di dekat pasar Tambun terdapat makam mbah Nakal yang menurut keterangan adalah termasuk pimpinan tentara Mataram dari jawa pada masa Sultan Agung menyerang Batavia.
Menurut keterangan bapak Madi dan bapak hanapiah dari Tambun, alat-alat perang masa Sultan Agung hingga kini masih ada yaitu berbentuk golok ujung turun dan keris luk lima. Selain alat tersebut diatas masih banyak lagi alat-alat lainnya yang tersebar di daerah Bekasi.
Kesenian rakyat sebagai peninggalan dari Mataram ialah Ujungan. Melihat dari gerakan-gerakannya dapat melambangkan ketangkasan, keberanian dan keuletan, sehingga dengan ujungan itu dapatlah kita yakini bahwa tentara-tentara Mataram itu cukup tangkas dan gagah berani.
Dilihat dari segi bahasa maka Bekasi mempunyai bahasa yang termasuk komplek karena pengaruh dari Jawa, Sunda, Banten dan Jakarta hingga kini daerah-daerah kedudukan suku-suku itu masih nampak, hal ini tergantung pada tempat-tempat merka tingal semula.
Dengan demikian wajarlah apabila kebudayaan Bekasi mempunyai corak tersendiri karena bila dilihat dari segi historisnya memang sangat komplek sekali.
Sebagai warisan para leluhurnya, masyarakat Bekasi mempunyai sifat-sifat yang negatif tetapi banyak juga sifat-sifat positifnya misalnya berani, satria, demokratis, militan, toleransi dan sebagainya sehingga walaupun masyarakatnya heterogen tetapi tetap rukun.

PERANG MATARAM DENGAN BANTEN

Terdahulu sudah dijelaskan bahwa setelah raden rangga Gempol I meninggal dunia maka sebagai gantinya adalah Rangga Gede. Pengangkatan ini menimbulkan sakit hati Rangga Gempol II seakan-akan Sultan Agung tidak bijaksana. Kemudian ia meminta tolong kepada Sultan Banten.
Setibanya di Banten Rangga Gempol II disambut baik karena pada masa ituBanten dan Mataram sedang bersaingan baik polituk maupun ekonomi.
Selanjutnya Rangga Gempol II berjanjji kepada Sultan Banten apabila sumedang dapat dikuasai, maka tanah Priangan akan dimasukan dalam wilayah kekuasaan Banten.
Setelah sepakat keduanya untuk mengalahkan Rangga Gede, maka Sultan banten mengirimkan pasukannya kesepanjang sungai Citarum, tentu hal ini mencurigakan pihak Mataram.
Sebagai tindakan berikutnya, sultan mengirinkan pasukannya ke daerah karawang, juga termasuk daerah Bekasi (karena Karawang dulu maksudnya sampai ke Cipamangkis) dibawah pimpinan Aria Surengrono dari Wirasaba.
Perjalanan dari Mataram menuju jalan utara ialah melalui Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu,  Ciasem sampailah kedaerah Karawang.
Menurut dugaan Aria Wirasaba tentu tentara Banten kuat sekali sedangkan keadaan fisik tentara Mataram sudah lemah akibat perjalanan yang begitu jauh. Untuk mengusir tentara Banten rupanya Aria Surengrono tidak sanggup lagi.
Selanjutnya dia beserta pasukannya mendirikan perkumpulan di Waringinpitu, Parakansapi, dan Adiarsa. Ketiga tempat tersebut tidak jauh dari Udug-udug (Kecamatan Telukjambe Karawang sekarang).
Karena Aria Surengrono tidak mengadakan perlawanan terhadap tentara Banten yang dipimpin oleh Pangeran Pager Agung maka Sultan Agung mengirimkan lagi pasukannya yang kedua dibawah pimpinan Adipati Kertabumi III dari Galuh yang membawa pasukan dari orang-orang Sunda.
Adipati Kertabumi III berangkat dari Galuh menuju Udug-udug, sesampainya disana berperanglah tentara Mataram dengan Banten.
Perlu diketahui bahwa tentara Banten memang sebagian besar di Udug-udug tetapi ada juga yang menyebar ke daerah lain, misalnya Cibeureum (Pangkalan Karawang sekarang), Cibeureum (Kecamatan Tambun Bekasi) dan lain-lainnya.
Pada waktu terjadi perang, kedua belah pihak berjuang dengangigih dan akibat perang tersebut banyak darah yang mengalir, sehingga tempat yang dipakai untuk perang itu berwarna merah akibat darah yang mengalir. Selanjut tempat tersebut diberi nama “CIBEUREUM” (beureum arinya merah-Sunda).
Dalam perang itu pimpinan tentara Banten yaitu Pangeran Pager Agung tewas, kepalanya dipenggal sehingga di Udug-udug terkenal makam jangga artinya makam tanpa kepala.
Setelah perang selesai, Adipati Kertabumi III pergi ke Mataram untuk memberikan laporan. Sesampainya di Mataram Adipati Kertabumi III diberi hadiah oleh Sultan Agung sebuah keris bernama KERIS KAROSENJANG. Kemudian setelah menerima hadiah, Adipati Kertabumi III kembali lagi ketempat asalnya yaitu Galuh.
Untuk sementara yang menguasai Karawang diserahkan kepada saudaranya yang bernama Dalem Kaduruan Tambakbaya, juga ia diberi tugas oleh Adipati Kertabumi III mencari taman yang setrategis untuk dijadikan ibu kota pemerintahan.
Tidak lama setelah Adipati Kertabumi sampai di Galuh, ia meninggal dunia. Kemudian Sultan Agung mengutus putera Adipati Kertabumi III yaitu Adipati Kertabumi IV (Singaberbangsa) memerintah di Karawang.
Adapun surat pengangkatan untuk menjadi Wedana (Bupati sekarang) berbunyi sebagai berikut :
“Panget ingkang piagam Kangjeng ing Ki Rangga Gede ing Sumedang kagadekaken ing Astrawadana Milane Sun Gadehi piagam. Sun kongkon anggraksa kagengan Dalem. Siti Negara Agung. Kilen wates Cipamingkis, wetan watas Cilamaya, airta Sun kon anunggoni lumbung pari limang takes punjul tiga welas jait, Wedening pari sinambut dening Ki Singperbangsa. Basakala  tan angrawahi piagam lagi lampahing kiai Judabangsa kaping kalih Ki Wangsataruna. Ingkang petusan Kangjeng Dalem ambakta tata titi yang kalih ewu; wadana nipun Kiai Singaberbangsa kalih Ki Wirasaba kangdipun-wadanakaken ing manira. Sasangpun katampi dipun prenahaken ing Waringin pitu lan ing Tanjungpura. Angraksa Siti Gung Bungas kilen. Kala nulis piagam ing dina Rebo tanggal ping sapuluh sasi mulud tahun Alip, Kang anulis piagam manira Anggaprana Titi.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah :
“Peringatan piagam raja kepada Ki Rangga Gede di Sumedang diserahkan kepada Ki Astrawadana. Sebabnya maka saya serahi piagam ialah karena saya berikan tugas menjaga tanah Negara Agung milik raja. Di sebelah barat berbatas Cipamingkis, di sebelah timur berbatas Cilamaya, serta saya tugaskan menunggu lumbung berisi padi lima takes lebih tiga belas jait. Adapaun padi tersebut diterima oleh Ki Singaberbangsa. Basakalatan yang menyaksikan piagam dan lagi Kiai Judabangsa dan ke Ki Wangsataruna yang diutus oleh raja untuk pergi dengan membawa 2000 orang Pemimpimnya adalah Kiai Singaberbangsa serta Wirasaba, merekalah yang saya jadikan sesepuhnya. Sesudah piagam diterima mereka di tempatkan di Waringinpitu dan Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah Agung disebelah barat. Piagam ini ditulis pada hari Rabu, tanggal 10 Mulud tahun Alip. Yang menulis piagam ini adalah saya : Anggaprana, Selesai”.
Ibu kota pemerintah yang setrategis ialah sekitar Nagasari (Karawang).
Orang-orang Banten yang takluk pada Mataram membuat perkampungan (babakan) sehingga  baik di daerah Karawang maupun Bekasi terdapat “Kampung Babakan” dimana orang-orang Banten berumah tangga di tempat itu.
Sultan Agung setelah mengalahkan Banten dari daerah Karawang, maksudnya daerah Karawang (termasuk Bekasi) akan dijadikan lumbung beras, mengingat waktu perang terhadap V.O.C. (tahun 1629) mengalami kegagalan akibat kekurangan bahan makanan, dengan demikian daerah ini betul-betul dijadikan basis Mataram, bila menyerang lagi V.O.C. di Batavia.
Selanjutnya tugas masyarakat di daerah ini adalah mengangkat senjata dimasa perang dan mencangkul dimasa damai.
Sebagai bukti bahwa di kampung Kelapa Dua (sebelah utara Cileungsi dan sebelah timur Kabupaten Bekasi) adalah daerah pertanian yang luas, maka terdapat pada piagam yang berbunyi sebagai berikut :
“Panget lajang insung Singaberbangsa, kacekel dening Ki Astrawadana kalayan ki Wanajuda; mila Manira kacekel lajang Sawijes Manira kang juput pari kagengan Susuhanan kang kagadeh dening Ki Rangga Sumedang Lumbung Kelapa Duwa, kang tinunggu dening Ki Astrawadana kalih Wanajuda, Isine kang Manira juput pari limang takes punjul tiga wetas jadi bobot, arawahe Ki Judabangsa, Titi. Kala nulis dina jumaat, tanggal pisan, sasi Muharam tahun Alip”.
Adapun artinya dapat disimpulkan sebagai berikut :
“Piagam ini dari Adipati Singaberbangsa untuk Astrawadana dan Wanajuda yang menjaga persediaan padi. Padi itu harus dibawa oleh Singaberbangsa sesampainya Judabangsa dan Wangsataruna yang diperintah oleh Sultan.
Mengenai padi itu adalah kepunyaan Rangga Gede dari Sumedang. Adapun gudang itu letaknya di Kelapa Dua. Waktu menulis piagam ini pada hari jum’at, awal bulan Muharam tahun Alip”.
Bila kita teliti dari kedua piagam tersebut jelaslah bahwa sebagian daerah Kabupaten Bekasi sekarang, dahulunya bergabung dengan Karawang. Dan tanah pesawahan Karawang serta Bekasi dibukanya pada masa yaitu setelah pemerintahan terbentuk pada tahun Alip, sebagaimana tercantum pada piagam.
Menurut penyelidikan para ahli sejarah yang dimaksud dengan tahun Alip adalah tahun 1633 Masehi, hal ini sesuai dengan laporan Julianan de Silva pada tanggal 2 juli 1614 kepada pemerintah Belanda di Batavia yang menerangkan bahwa : paa masa itu telah menetap 2000 orang Jawa yang dipimpin oleh Judakarti atas perintah dari mataram. Mereka sedang mengerjakan sawah laang, menanam padi dan lada.
Pada saat kunjungan Juliana de Silva mereka juga sedang mengerjakan pekerjaan tersebut dan telah menyelesaikan sebanyak 17 lumbung yang punah berisi paadi. Lumbung-lumbung terdebit merupakan rumah-rumah besar serta panjangnya 10-12 depa dan lebarnya 2 depa. Dari kesimpulan tersebut dapat dikatakan bahwa sebelum tahun 1641 memang sudah dibuka tanah untuk pertanian, karena itu tepatlah bila yang dimaksud tahun Alip itu adalah tahun 1633.
Adapun yang dimaksud dengan kabupaten Karawang dahulu adalah sampai ke Cipamingkis. Dengan demikian sebutan Karawang-Bekasi pada masa Revolosi tahu 1945 adalah merupakan Circlus dalam sejarah Karawang-Bekasi.

PENGARUH TENTARA MATARAM TERHADAP BEKASI

Bala tentara Sultan Agung yang kalah dalam perang dengan V.O.C. sebagian dari mereka banyak yang membentuk tempat tinggal yang baru, sehingga mereka menjadi penduduk setempat. Mereka ada yang tinggal di daearah pantai, adapula yang tinggal di pedalaman seperti di Pekopen, di Cibarusah, Pondok Ranggon, Tambun, dan lain-lain.
Menurut cerita rakyat, ada beberapa tempat yang mempunyai tempat yang mempunyai riwayat dan hubungan dengan tentara Mataram, misalnya :
1.    Nama Pekopen berasal dari kata pe – kopi – an, artinya tempat ngopi, maksudnya tempat ngopi tentara Sultan Agung.
2.    Nama kampung Jawa disebut demikian karena orang-orang jawalah yang pertama kali membuka kampung tersebut, Mereka turun-tenurun sampai anak cucunya hidup disitu hingga sekarang.
3.    Pondok Ranggon merupakan tempat tentara Mataram mengadakan perundingan-perundingan, mengatur siasat dalam menyerang musuh.
Tentara Mataram yang datang ke Bekasi itu tidak datang dari Jawa Tengah saja, melainkan juga dari Jawa Timur, dari Jawa Barat seperti dari Galuh, Sukapura, Sumedang, dan lain-lain. Oleh karena itu terdapat daerah-daerah yang berbahasa Sunda, Jawa, atau campuran keduanya.
Tentara Mataram selain berpengaruh terhadap nama-nama tempat, bahasa, mental, juga yang dominan ialah terhadap kesenian diantaranya seperti : wayang wong, wayang kulit, calung, topeng, dan lain-lainya. Kesenian yang melekat hingga kini ialah Ujungan, merupakan kesenian rakyat yang masih gemari, karena kesenian tersebut selain mengundang keberanian dan ketrampilan, juga mempunyai instrumentalia yang cukup dinamik dan harmonis, sehingga kesenian tersebut menjiwai masyarakat Bekasi sesuai dengan jiwa patriotik para leluhur mereka.
Pada masa kini kesenian tersebut lebih ditingkatkan lagi mutunya sesuai dengan kemajuan zaman sehingga kekasaran dalam permainan itu dapat ditekan, sebagai akibatnya kesenian itu lebih terbina sepanjang masa. Kesenian yang bersifat keagamaan yang digemari oleh masyarakat Bekasi ialah berupa Kasidahan (Gambus) dan Ketimpling. Demikianlah sepintas kilas mengenai kesenian yang terdapat di daerah Bekasi.

PENGARUH KEKACAUAN DI MATARAM TERHADAP BEKASI

Sultan Agung selaku Raja Mataram terbesar di Pulau Jawa, meninggal dunia pada tahun 1645 pada usia 55 tahun. Pengganti Sultan Agung adalah puteranya yang kedua bernama Amangkurat I (Sunan Tegal Wangi). Ia teerpilih menjadi raja, karena dia lah yang kelihatannya lebih mampu dari saudaranya. Ibunya adalah putri Pangeran Ratu, Raja Cirebon.
Amangkurat I adalah seorang raja yang keras dan bertindak kejam terhadap rakyatnya sebagai bukti tindaka-tindakannya yang kejam ialah :
1.    Susuhunan Tegal Wangi seorang pembenci agama, ia berusaha mengembalikan hukum sebelum Islam, hanya rajalah yang memberikan hukuman berat seperti hukum gantung yang pernah dilaksanakannya di Mataram.
2.    Dia telah mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang di Alun-alun Plered, dengan secara diam-diam ia mengambil tentaranya untuk mengepungnya. Kemudian tembakan-tembakan meriam dilepaskan sebagai tanda penyerangan terhadap mereka. Sehingga dalam waktu yang amat singkat selasailah pembunuhan itu. Mereka yang terbunuh itu diantaranya ialah para alim ulama yang tidak disukainya. Dengan selesainya pembunuhan itu Amangkurat I merasa dirinya aman untuk sementara waktu karena orang-orang yang dicurigainya telah musnah.
3.    Setelah Permaisurinya yang amat dicintainya meninggal dunia pada tahun 1667, ia membiarakan beberapa ratus rakyatnya mati kelaparan.
Ia melakukan tindakan yang demikian kaena sikapnya aristocratis dari pada ayahnya. Ia menghendaki mutlak atas seluruh wilayahnya, oleh karena itu kekuasaan kaum ulamapun dicoba untuk dipatahkannya. Akan tetapi ia tidak memiliki kekuatan, kecakapan, keberanian dan kebesaran jiwa seperti ayahnya, sehingga ia selalu merasa takut dan curiga. Dengan demikian orang-orang yang tidak berpihak kepadanya dianggap sebagai musuh yang membahayakan kedudukannya. Itulah sebabnya ia bertindak seperti tersebut diatas.
 Terhadap pihak Belanda ia mengadakan hubungan baik. Hal ini sangat bertentangan dengan politik yang telah dilakukan oleh ayahnya yaitu Sultan Agung. Hubngan baik antara Amangkurat I ddengan pihak Belanda terlihat pada suatu kunjungan bangsa Belanda yang diwakili oleh Rijclof van Goens dengan memberikan hadiah kepada Amangkurat I sampai seharga £ 10.000,- (sepuluh ribu pound sterling) dan Amangkurat I, memerintahkan kepada rakyatnya untuk memperbaiki jembatan-jembatan untuk lalu-lintas dan menyediakan makanan untuk Kompeni. Pada saat inilah Amangkurat I memberikan kesempatan kepada kompeni untuk bergerak lebih bebas lagi. Politik konfrontasi yang dilakukan oleh Ayahandanya telah di khianatinya dengan jalan melakukan politik damai terhadap kompeni.
Tanda-tanda suram bagi Mataram hari demi hari mulai tampak, lebih-lebih setelah rakyat Mataram merasa bahwa pemerintahnya banyak melakukan tekanan yang berat terhadap mereka, sehingga rakyat menjadi sengsara.
Rakyat belum pulih kembali mengatasi segal kesukaran-kesukaran hidup akibat daripada peperangan pada masa Sultan Agung, karena sawah-sawah tak dapat mereka kerjakan dengan baik ditambah dengan kekejaman Amangkurat I,  oleh sebab itu rakyat menjadi gelisah. Cangkul dilepaskan, sawah-sawah dibiarkan, kampung halaman di tinggalkan. Petani angkat senjata, lembing, pedang, keris semua dihunus untuk berontak terhadap kraton. Dimana-mana timbul huru-hara, bentrokan-bentrokan antara pasukan dengan barisan rakyat. Untuk mengatasi keadaan Mataram, maka Amangkurat I meminta bantuan kepada kompeni.
Kompeni bersedia memberikan bantuan kepada Amangkurat I asal sebagian wilayah Mataram diserahkan kepada Belanda sebagai upah. Menurut Prof. Dr. Assikin Wijayakusumah dalam bukunya Babad Pasundan berpendapat bahwa :
“Menurut perjanjian lisan antara Sunan Tegal Wangi dan Rijcklof van Goens, tanah-tanah yang terdapat pada sebelah barat sungai Citarum sejak tahun 1652 oleh Mataram diserahkan pada Kompeni.”
Tetapi menurut sejarah Jawa barat yang disusun oleh Team Penerangan Umum Sejarah Jawa Barat menerangkan bahwa :
“Amangkurat I berdasarkan perjanjian 1646 minta bantuan kepada V.O.C. Bantuan V.O.C. diperoleh setelah menandatangani perjanjian yang sangat merugikan, antara lain bahwa :
1.    Daerah Batavia diakui sebagai hak milik V.O.C. dan Mataram melepas hak dipertuannya.
2.    Batas antara Mataram dan Batavia adalah sungai Pemanukan.
3.    Pengakuan Mataram ini merupakan jaminan atas keamanan Batavia terhadap serbuan-serbuan dari Mataram”.
Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sejak tahun 1652 daerah Bekasi sudah termasuk wilayah kompeni, sebagai akibat politik yang dijalankan pemerintahan Mataram dalam masa pemerintahan Amangkurat I. dapatlah kita bayangkan betapa sedihnya kita sebagai bangsa yang merdeka kemudian dimasukan ke wilayah Batavia sebagai daerah jajahan, akibat bangsa kita sendiri yang kurang bertanggung jawab.
Diatas telah dikatakan bahwa akibat tindakan Amangkurat I menimbulkan huru-hara di Mataram yang sebagai kelanjutannya menimbulkan pemberontakan Tarunajaya.
Walaupun daerah bekasi telah masuk wilayah Batavia, namun pada masa pemberontakan itu berpengaruh juga terhadap Bekasi karena daerah ini berbatasan dengan Mataram. Pemberontakan Tarunajaya sangat menjiwai rakyat Mataram dan Madura khususnya, juga rakyat indonesia pada umumnya sehingga ia mendapat bantuan dari orang-orang Makasar yang dipimpim oleh Kraeng Galesung.
Daerah pemberontakan bukan hanya di pusat kota pemerintahan Mataram, melainkan juga pada daerah pinggiran Mataram lainnya. Hal ini terlihat pada daerah-daerah pantai Bekasi yaitu di daerah Blacan, Marunda dan Muara Gembong dimana orang-orang bugis tinggal disana.
Menurut cerita rakyat di Blacan sisa-sisa masjid yang ada sekarang oleh orang-orang Bugis, karena waktu penduduk setempat datang ke tempat tersebut mesjid itu sudah ada.
Dapatlah kita simpulkan bahwa kedatangan orang-orang Bugis ke daerah Bekasi adalah pada masa pemberontakan Tarunajaya di Mataram.
Sebagai akibat dari pemberontakan  Tarunajaya, maka untuk menumpas pemberontakan tersebut, Mataram kehilangan daerahnya sebelah barat sungai Citarum sampai ke Pamanukan. Hal ini terjadi pada tanggal 28 Februari 1677. dengan demikian daerah-daerah Karawang dan Bekasi masuk daerah Batavia.
Sekalipun Batavia telah berhasil untuk mengikat Mataram dengan perjanjian pemberian tanah di wilayah Jawa Barat, namun tidak berarti bahwa Batavia merasa aman dirinya, dibagian barat Jawa Barat, yaitu kerajaan banten, mempunyai kekuatan dan pengaruh yang sangat besar, dengan demikian Batavia merasa dirinya terancam.
Untuk melindugi dirinya, Belanda (V.O.C.) membuat benteng-benteng. Diantaranya terdapat benteng bambu di Tanjungpura, yaitu pada pertemuan muara Cibeet dengan sungai Citarum.
Kegunaaan benteng tersebit yaitu sebagai pos jaga orang-orang kompeni baik untuk pengawasan segi politik dan keamanan juga dari segi ekonomi.


BEKASI DI BAWAH KEKUASAAN V.O.C.

Sejak tahun 1705 secara de facto seluruh Jawa Barat sudah dijadika dalam wadah V.O.C.
V.O.C. merupakan kekuasaan tunggal di Jawa Barat yang berarti menentukan gerak politik ekonomi Jawa Barat untuk selanjutnya.
Perkembangan dan perluasan kekuasaan V.O.C. pada tahun 1705 terdiridari dari beberapa wilayah yaitu :
1.    Batavia dan sekitarnya (termasuk Bekasi)
2.    Sukabumi, Cianjur.
3.    Priangan.
4.    Banten.
Dari wilayah-wilayah tersebut di atas V.O.C. hanya memperhatikan segi perniagaannya saja, yakni bahan-bahan apa saja yang diperoleh dari daerah itu dan apa yang dapat dijual kepada rakyat.
Mengenai daerah Bekasi, hasil bumi yang diperoleh pada waktu itu ialah berupa beras, kayu dan ikan.
Jadi diterangkan, bahwa Belanda telah membuat benteng pada pertemua Cibeet dengn Citarum untuk kepentingan politik dan ekonomi.  Menurut babad karawang dijelaskan bahwa benteng tersebut dijaga 25 orang petugas V.O.C. untuk menguasai orang-orang yang hilir mudik memakai perahu dengn membawa beras, kayu, ayam dan hasil-hasil bumi lainnya.
Mereka yang hilir mudik itu pada umumnya adalah orang-orang Bekasi dan Karawang. Barang-barang yang mereka bawa itu dibeli kompeni dengan harga rendah.
Dalam membeli hasil-hasil bumi itu, kompeni membutuhkan pula kayu-kayu yang ringan yaitu kayu jabon dan kayu karumbi yang baik dan sangat diperlukan untuk pembuatan obat bedil (senjata).
Permintaan kompeni akan barang-barang tersebut tak ada henti-hentinya, sehingga rakyat menjadi bosan dan kehabisan tenaga, skhirnya pada tahun 1723 penduduk yang tinggal disepanjang sungai banyak yang pindah ke pedalaman. Mereka sudah tidak tahan lagi atas tugas-tugas yang dibebankan oleh kompeni.
Pada masa kompeni dipegang oleh Hendrik Swaar de Croon daerah-daerah muara yaitu kampung Bugis, Cabang bungin dan Balubuk diserahkan kepada seorang bernama Johanes untuk kepentingan ekonomi.
Salah satu usaha sebagai tulang punggung ekonomi adalah lancarnya lalulintas, maka dengan mengerahkan beberapa ratus tenaga rakyat dengan jalan kerja paksa dibuatkan jalan raya Cikarangsampai ke Tanjung Pura. Usaha pihak Belanda untuk keamanan dan perekonomian, adalah menyewakan tanah-tanah disebelah selatan sungai cikarang, sebelah timur sungai Cipamangkis sampai sungai Cibeet dan Muara Gembong kepada orang-orang Belanda dan Cina. Dengan demikian pada masa itu tanah Bekasi diberikan kepada orang-orang asing guna kesejahteraan hidupnya, namun akibatnya rakyat Bekasi penuh penderitaan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Karena itu, tidaklah aneh bila sampai kini orang-orang Cina di Bekasi masih ada yang menguasai tanah-tanah ladang yang luas untuk keperluan guna usaha.


PATRIOTISME RAKYAT BEKASI
PADA MASA REVOLOSI PHISIK 1945-1950

Jauh atau lama sebelum sampai kepada detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945, rakyat Bekasi secara aktif mengadakan persiapan-persiapan untuk menyambut datangnya sinar terang (kemerdekaan). Rakyat tergabung dalam barisan Shuishintai yang kemudian menjadi barisan Pelopor, sebagi bukti diantaranya berbondong-bondong sepanjang jalan raya kurang lebih 10.000 orang bersenjata golok terhunus, bambu runcing dan beberapa pucuk senjata api menuju Jatinegara Jakarta, tepatnya gang kelor depan Bioskop Central, untuk memenuhi undangan pejuang-pejuang Jakarta yang pada mulanya akan menjemput tentara PETA (Pembela Tanah Air) kemudian terus menyerbu tangsi-tangsi tentara Dai Nippon yang berada di sekitar Jatinegara. Akan tetapi sayang bahwa hal ini telah diketahuinya, penyerbuan gagal. PETA dan Heiho dilucuti senjatanya. Pasukan kembali ke Bekasi. Rakyat ditempa dan di isi jiwanya dengan latihan-latihan phisik dan latihan-latihan batin agar menjadi kuat mentalnya sehingga menjadi barisan yang ampuh, tak gentar menghadapi sesuatu dan hal-hal yang besar. Sewaktu-sewaktu Pejuang Menteng 31 Jakarata (Angkatan Pemuda Indonesia) menghubungi Pejuang-pejuang Bekasi dengan mengirim monil-mobil tertutup untuk kepentingan kegiatan disekitar Jakarta dan Tanjung Priok, dan di waktu malam mengadakan penculikan-penculikan, merampas senjata api, kendaraan Jepang, serta mengadakan gerakan corat-coret di tembok-tembok toko, gedung-gedung besar-kecil dengan tulisan-tiulisan diantaranya : “INDONESIA MERDEKA” dan pada siang harinya medatangi gudang-gudang dengan jalan memaksa Jepang untuk memasrahkan kunci-kunci yang kemudian kunci-kunci gudang tersebut dikumpulkan di asrama Menteng 31. Menurunkan bendera Matahari (bola-bola merah) dari Kantor-kantor besar kecil diganti dengan Sang Dwi Warna Merah Putih.
Hal ini dilakukan dengan jiwa patriotik, penuh keberanian yang tinggi dan tidak luput mendapatkan tantangan. Terjadi perkelahian-perkelahian antara tentara Jepang, menjalankan tugas dengan tak mengenal maut. Dari hasil penyerbuan tersebut bertambahlah kekuatan persenjataan kita. Tangsi-tangsi Polisi diserang, dikuasai dan diduduki oleh rakyat (barisan Pelopor). Diambil alih semua kekuasan dari tangan Jepang. Rakyat membalas dendam karena merasa dihina, disiksa, dianiaya dan dirampas harta bendanya bahkan ada yang dibunuh secara biadab dengan samurai, dipenggal lehernya. Rakyat miskin memakai kain gobang an karet, memakan bonggol pisang, banyak direnggut maut di tengah perjalanan dan mati kelaparan. Betapa pedih rasa hati diwaktu itu, main terjang dan pukul diluar perikemanusiaan. Datang pembalasan kepada mereka (tentara Jepang -  tentara Dai Nippon). Amarah rakyat tidak tertahan lagi, mengamuk bagaikan serigala menerkan mangsanya. Banyak tentara Dai Nippon di Bekasi menjadi korban, berpuluh-puluh orang terbunuh, jembatan Bekasi berganti namanya menjadi jembatan merah karena banjir darah. Api revolusi membakar udara Bekasi. Daerah Bekasi terbakar terus, situasi panas mencekam. Kranji menjadi markas barisan Pelopor dan dapur umum. Sebagi tanda kesanggupan dan kesiap-siapan rakyat Bekasi pada tanggal 19 september 1945 mulai subuh sudah memenuhi jalan raya, berbondong-bondong bersenjata bambu runcing, golok, keris dan beberapa pucuk senjata api. Sebanyak ± 15.000 orang berjalan kaki menuju Jakarta besama-sama rakyat daerah lainnya seperti : Jakarta, Cengkareng, Banten dan sebagainya membanjiri lapangan IKADA (Gambir) dalam keadaan siap tempur sambil berteriak-teriak “SEKALI MERDEKA, TETAP MERDEKA”. Bagaimanapun dihalang-halangi tentara Dai Nippon yang pada waktu itu sudah menjadi petaklukan tentara sekutu, namun barisan Pelopor dan ikut serta pula Gerakan Pemuda Islam Bekasi(G.B.I.B) terus menerobos barikade-barikade Jepang, tetap berbaris masuk lapangan untuk mendorong Bung Karno dan Bung Hatta mengumandangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia ke seluruh dunia. Suasana Jakarta menjadi hangat, dipenuhi dengan barisan-barisan yang datang dari tiap penjuru, terutama barisan dari Bekasi. Lapangan IKADA (Gambir) menjadi lautan manusia. Tidak jarang terjadi pertempuran-pertempuran/perkelahian-perkelahian dimana tentara Jepang banyak yang terbunuh oleh tusukan-tusukan bambu runcing, bacokan golok, tikaman keris dan peluru. Setelah selasai, barisan-barisan dari Bekasi sebagian langsung kembali dan sebahagian pula bemalam di asrama Menteng 31 Jakarta. Keesokan harinya baru kembali ke Bekasi. Di jalan tidak luput dari hadangan tentara Jepang, pasukan bertempur dengan tekad “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” menimbulkan semangat yang berapi-api dan keyakina yang teguh. Untuk menjaga ketertiban dan meningkatkan semangat juang, daya tahan dan tempur, maka dibentuk dan disusunlah, K.N.I (Komite Nasional Indonesia) serta disusun pula organisasi yang merupakan kesatuan-kesatuan bersenjata dengan nama B.K.R. (Badan Keamanan Rakyat) yang kemudian ditingkatkan menjadi T.K.R. (Tentara Keamanan Rakyat), kemudian pula menjadi T.R.I. (Tentara Republik Indonesia) pada akhirnya menjadi T.N.I. (Tentara Nasional Indonesia). Terkenal di Bekasi dengan Batalyon V, Resimen 6, Div. Siliwangi. Batalyon II. Disamping itu pula dibentuk ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia), Batalyon 3 Pangkalan II, kemudian menjadi Kesatuan 27 Pangkalan II yang bertempat di Kebalen, Babelan, kemudian Pangkalan (Babakan) ke utara; pantai derah Bekasi. Berikut pula dibentuk organisasi-organisasi angkatan bersenjata (Badan-badan Perjuangan) seperti: B.B.R.I. (Barisan Banteng Republik Indonesia), L.R. (Laskar Rakyat), Hizbullah Sabilillah yang kemudian digabung menjadi M.P.H.S. (Markas Pusat Hizbullah Sabilillah). Kampung Pekayon dan Teluk Pucung menjadi tempat latihan. Untuk mengkoordinir Badan-badan Perjuangan yang semakin lama semakin banyak karena situasi perang Kemerdekaan, terbentuk pula diantaranya: Pesindo, PRD, KRIS dan LASJWI, dihimpun dalam satu badan yang bernama MPDT (Markas Perjuangan Jakarta Timur) bagi pejuang-pejuang yang dari Jakarta, dan dihimpun pula dalam Biro Perjuangan dan kemudian MPP, (Markas Pusat Perjuangan).
Menurut catatan yang ada : pada hari kamis tanggal 25 Agustus 1945 para pejuang kita melucuti senjata tuan tanah Teluk Pucung (Bekasi) , Ir. Tan dan pada waktu yang sama pula melucuti iring-iringan panser wagen/truck-truck Jepang di daerah Cakung, serta merampas sebuah sedan Jepang berikut senjatanya di Kranji. Pada hari-hari berikutnya menahan sejumlah 49 truck Jepang, senjatanya dilucuti terdiri dari : 5 pucuk senjata panjang dan berpuluh-puluh senjata pendek (Pistol), 2 buah truck dirampas, lainnya diperintahkan langsung ke Jakarta. Akibat dari penahanan truck dan senjata-senjata yang dirampas di daerah Cakung itu. Sesampainya di Klender iring-iringan panser itu di tolak oleh H. Darip Cs, dan kembali ke Jakarta. Maka kembalilah iring-iringan panser itu dengan tangan hampa. Api peperangan semakin hari semakin menghebat dan berkobar, kalimat takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, berkumandang terus setiap hari dan malam.
Pada bulan September 1945 terjadi penurunan tentara Jepang di Bekasi dari kereta api yaitu Kesatuan Kaigun (Angkatan Laut) sebanyak 112 orang. Rakyat tak tertahankan lagi dalam satu hari satu malam habis dibunuh semua. Cakung menjadi medan juang pertempuran siang dan malam. Pada hari Jum’at 10 Oktober 1945 Pondok Gede diserang dan diduduki Belanda. Kemudian tanggal 12 Oktober 1945 terjadi pertempuran yang terkenal dengan pertempuran Bulakcabe (Pondok Gede),tidak sedikit jatuh korban



2 komentar:

  1. Terkesima saya membacanya, tapi mohon maaf koreksi sedikt, di mana nama ulama besar Almagfurlah KH. Noer Alie dengan peristiwa rawagede-nya. afwan

    BalasHapus
  2. Iya neh, Bekasi ga terlepas dari perjuangan sang singa kerawang-bekasi (KH. Noer Alie)

    BalasHapus